Kandangan, kalau Anda orang
Kalimantan Selatan pasti akan terpikirkan nama sebuah kota di bumi Kalimantan
Selatan. Di antara sekian banyak kota di Kalimantan Selatan, Kota Kandangan
merupakan kota yang paling menarik. Pernahkah Anda mendengar Loksado? Loksado
merupakan salah satu objek wisata yang sangat mempesona. Tidak hanya bagi para
wisatawan lokal, tetapi juga bagi wisatawan mancanegara. Loksado penuh dengan keindahan yang sangat
eksotis, alamnya yang belum terjamah kemajuan tekhnologi. Lingkungannya yang masih asri belum
terkontaminasi oleh polusi. Air terjun Haratai yang bersih tak tercemar,
sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri.
Kandangan juga
merupakan kota seni budaya. Para penyair lokal banyak menggambarkan
kekagumannya pada kota Kandangan. Japin, Madihin, Panting, dan aneka kesenian
lainnya tumbuh subur di daerah Kandangan.
Belum lagi aneka kuliner yang ada di daerah ini. Katupat baiwak, Dodol, Wajik, dan yang lumayan sangat diminati adalah Lamang Kandangan. Kue
tradisional berbahan ketan yang dimasak di dalam buluh atau bambu yang di bakar
sangat enak disantap dengan pecal atau telur asin.
Bicara kota
Kandangan juga tak terlepas dari masyarakatnya yang terkenal berani. Mungkin
sifat pemberani tersebut merupakan warisan dari para pejuang dulu yang dipimpin
oleh Pangeran Antaludin. Tak heran Kandangan juga mendapat julukan sebagai Bumi
Antaludin. Masyarakat yang pemberani bahkan cenderung temperamen menjadi ciri
khas. Bahkan ada semacam jargon untuk mengungkapkan hal itu, bila masyarakat
Kandangan merantau ke kota lain, dia akan dengan bangga berkata “Kandangan Cing
Ai” sekadar membanggakan diri sebagai orang Kandangan.
Terlepas dari
semua hal di atas, ada keunikan lain yang dimiliki kota Kandangan. Kehidupan di kota Kandangan tak pernah berhenti. Tak ada istilah sepi atau istirahat.
Kandangan adalah sebuah kota yang tak pernah tidur. Itu merupakan julukan yang
tepat untuk menggambarkan keadaan yang ada. Bagaimana tidak? Dari pagi
menjelang sampai tiba pagi berikutnya, kota Kandangan selalu dipenuhi dengan
aktifitas yang tak pernah henti. Hal itu terlihat nyata jika kita mengamati
kegiatan di pasar Kandangan dan sekitarnya.
Pasar
Kandangan dan sekitarnya yang bernama Los Batu tersebut adalah pasar yang luar
biasa dikarenakan masyarakat Kandangan bisa melakukan kegiatan jual beli full
selama 24 jam untuk menambah pendapatan
keluarga. Tidak heran jika angka kemiskinan di kabupaten Hulu Sungai Selatan terhitung rendah,
hal ini salah satunya disebabkan karena adanya sifat ulet yang dimiliki para pedagang
di Kandangan.
Saat matahari
belum memamerkan senyum manisnya, aktifitas masyarakat di sekitar pasar Kandangan sudah ramai. Para petani membawa hasil panennya ke pasar, para
pencari ikan membawa hasil tangkapannya, dan di situ transaksi jual beli sudah
berlangsung. Dari petani, pekebun, hingga nelayan melakukannya kepada para
pedagang besar. Mereka membeli dengan sistem borongan.
Menjelang
siang sampai sore, pasar pasti semakin ramai akan pengunjung. Banyak Warung
dan kios yang masih sibuk melayani para pembeli. Para petani, pekebun, hingga para nelayan
kembali beraktifitas seperti biasa agar hasil kerja mereka bisa didistribusikan
kembali ke para pedagang pada esok hari.
Di waktu malam
juga tak kalah ramainya. Kegiatan jual beli masih berlanjut. Bahkan tak sedikit
Warung dan pedagang Kaki Lima masih buka untuk menjajakan dagangan dan makanan
di pasar walau diselimuti oleh dinginnya malam. Di Kandangan sangat gampang
untuk menemukan warung-warung yang menjual makanan maupun. Kapan pun merasa lapar,
kita akan dengan mudah menemukan warung. Bahkan dalam tiap satu meter akan
dijumpai warung-warung kecil dalam posisi bersebelahan atau berseberangan. Hal yang
jarang ditemui di tempat lain.
Aktifitas yang
tak pernah henti dari pagi menjelang hingga kembali bertemu pagi ke esokan
harinya. Tak ada istilah pasar tutup, karena kegiatan jual beli di pasar
tersebut memang tak mengenal kata berhenti. Keunikan inilah yang menyebabkan
Kandangan diibaratkan sebagai kota yang tak pernah mati. Selain tak mati dengan
budaya dan kreatifitas seninya. Kandangan juga tak pernah mati dengan berbagai
kegiatan ekonominya yang terpusat di pasar Los Batu. Keunikan yang tak dimiliki
oleh kota lain. Kandangan memang kota yang selalu hidup dan tak pernah mati, demikian
juga di hati masyaratnya.



Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat, hikayat, legenda, situs sejarah dan situs prasejarah kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Situs pemukiman hunian kuno manusia prasejarah di situs jambu hilir padang rasau dan situs jambu hulu sungai tatau, Sang maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang dan raja bagalung kerajaan bakaling, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba di sungai paring dalam, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin, tumenggung mat lima dan tumenggung mat jingga mempertahankan benteng gunung madang, datu ali kangsa dan datu ali syahid di durian rabung, panglima bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais, datu ali akbar dan datu jaya pati di bamban, datu gulama di sungai paring, datu janggar dan datu janggaran di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam tumenggung kartawedana, datu haji sahid dan datu haji said, datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan letnan dua Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, bagambir, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, tabihi, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan kalimantan.
BalasHapusSemuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.