Minggu, 23 November 2014

Kandangan Kota yang tak pernah "Mati"




Kandangan, kalau Anda orang Kalimantan Selatan pasti akan terpikirkan nama sebuah kota di bumi Kalimantan Selatan. Di antara sekian banyak kota di Kalimantan Selatan, Kota Kandangan merupakan kota yang paling menarik. Pernahkah Anda mendengar Loksado? Loksado merupakan salah satu objek wisata yang sangat mempesona. Tidak hanya bagi para wisatawan lokal, tetapi juga bagi wisatawan mancanegara.  Loksado penuh dengan keindahan yang sangat eksotis, alamnya yang belum terjamah kemajuan tekhnologi.  Lingkungannya yang masih asri belum terkontaminasi oleh polusi. Air terjun Haratai yang bersih tak tercemar, sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri.


Kandangan juga merupakan kota seni budaya. Para penyair lokal banyak menggambarkan kekagumannya pada kota Kandangan. Japin, Madihin, Panting, dan aneka kesenian lainnya tumbuh subur di daerah Kandangan.  Belum lagi aneka kuliner yang ada di daerah ini. Katupat baiwak, Dodol, Wajik, dan yang lumayan sangat diminati adalah Lamang Kandangan. Kue tradisional berbahan ketan yang dimasak di dalam buluh atau bambu yang di bakar sangat enak disantap dengan pecal atau telur asin.

Bicara kota Kandangan juga tak terlepas dari masyarakatnya yang terkenal berani. Mungkin sifat pemberani tersebut merupakan warisan dari para pejuang dulu yang dipimpin oleh Pangeran Antaludin. Tak heran Kandangan juga mendapat julukan sebagai Bumi Antaludin. Masyarakat yang pemberani bahkan cenderung temperamen menjadi ciri khas. Bahkan ada semacam jargon untuk mengungkapkan hal itu, bila masyarakat Kandangan merantau ke kota lain, dia akan dengan bangga berkata “Kandangan Cing Ai” sekadar membanggakan diri sebagai orang Kandangan.

Terlepas dari semua hal di atas, ada keunikan lain yang dimiliki kota Kandangan. Kehidupan di kota Kandangan tak pernah berhenti. Tak ada istilah sepi atau istirahat. Kandangan adalah sebuah kota yang tak pernah tidur. Itu merupakan julukan yang tepat untuk menggambarkan keadaan yang ada. Bagaimana tidak? Dari pagi menjelang sampai tiba pagi berikutnya, kota Kandangan selalu dipenuhi dengan aktifitas yang tak pernah henti. Hal itu terlihat nyata jika kita mengamati kegiatan di pasar Kandangan dan sekitarnya.




Pasar Kandangan dan sekitarnya yang bernama Los Batu tersebut adalah pasar yang luar biasa dikarenakan masyarakat Kandangan bisa melakukan kegiatan jual beli full selama 24 jam untuk  menambah pendapatan keluarga. Tidak heran jika angka kemiskinan di kabupaten Hulu Sungai Selatan terhitung rendah, hal ini salah satunya disebabkan karena adanya sifat ulet yang dimiliki para pedagang di Kandangan.


Pasar Kandangan saat Pagi Hari.


Saat matahari belum memamerkan senyum manisnya, aktifitas masyarakat di sekitar pasar Kandangan sudah ramai. Para petani membawa hasil panennya ke pasar, para pencari ikan membawa hasil tangkapannya, dan di situ transaksi jual beli sudah berlangsung. Dari petani, pekebun, hingga nelayan melakukannya kepada para pedagang besar. Mereka membeli dengan sistem borongan.


Pasar Kandangan saat Siang Hari.


Menjelang siang sampai sore, pasar pasti semakin ramai akan pengunjung. Banyak Warung dan kios yang masih sibuk melayani para pembeli. Para petani, pekebun, hingga para nelayan kembali beraktifitas seperti biasa agar hasil kerja mereka bisa didistribusikan kembali ke para pedagang pada esok hari.


Pasar Kandangan saat Malam Hari.


Di waktu malam juga tak kalah ramainya. Kegiatan jual beli masih berlanjut. Bahkan tak sedikit Warung dan pedagang Kaki Lima masih buka untuk menjajakan dagangan dan makanan di pasar walau diselimuti oleh dinginnya malam. Di Kandangan sangat gampang untuk menemukan warung-warung yang menjual makanan maupun. Kapan pun merasa lapar, kita akan dengan mudah menemukan warung. Bahkan dalam tiap satu meter akan dijumpai warung-warung kecil dalam posisi bersebelahan atau berseberangan. Hal yang jarang ditemui di tempat lain.

Aktifitas yang tak pernah henti dari pagi menjelang hingga kembali bertemu pagi ke esokan harinya. Tak ada istilah pasar tutup, karena kegiatan jual beli di pasar tersebut memang tak mengenal kata berhenti. Keunikan inilah yang menyebabkan Kandangan diibaratkan sebagai kota yang tak pernah mati. Selain tak mati dengan budaya dan kreatifitas seninya. Kandangan juga tak pernah mati dengan berbagai kegiatan ekonominya yang terpusat di pasar Los Batu. Keunikan yang tak dimiliki oleh kota lain. Kandangan memang kota yang selalu hidup dan tak pernah mati, demikian juga di hati masyaratnya.

1 komentar:

  1. Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat, hikayat, legenda, situs sejarah dan situs prasejarah kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Situs pemukiman hunian kuno manusia prasejarah di situs jambu hilir padang rasau dan situs jambu hulu sungai tatau, Sang maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang dan raja bagalung kerajaan bakaling, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba di sungai paring dalam, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin, tumenggung mat lima dan tumenggung mat jingga mempertahankan benteng gunung madang, datu ali kangsa dan datu ali syahid di durian rabung, panglima bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais, datu ali akbar dan datu jaya pati di bamban, datu gulama di sungai paring, datu janggar dan datu janggaran di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam tumenggung kartawedana, datu haji sahid dan datu haji said, datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan letnan dua Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, bagambir, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, tabihi, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan kalimantan.
    Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    BalasHapus